Langsung ke konten utama

TERIMALAH KENYATAAN



TERIMALAH KENYATAAN

Oleh : Setyagi Agus Murwono




Kehidupan ini bagaikan masuk di ruang pengadilan. Ketika masuk di ruang tersebut kita harus tahu aturan mainnya dan kita juga harus mempunyai rencana permainannya. Permainan di ruang pengadilan adalah jaksa akan menuntut kesalahan-kesalahan kita, dan kalau kita ingin keluar dari ruang pengadilan dengan kemenangan maka kita harus mampu memberikan bukti-bukti bahwa kita tidak bersalah.

Kita sering sudah kalah dahulu sebelum masuk ruang pengadilan. Hal ini karena kita tidak mengetahui aturan permainannya dan kita juga tidak mempunyai rencana untuk menghadapi permainan tersebut. kita hanya terus-menerus merenungi suatu pertanyaan “mengapa hal ini bisa terjadi?”. Kalau demikian yang terjadi, itu namanya kita sudah kalah dulu sebelum masuk ruang pengadilan.

Demikilah dalam kehidupan ini, kita masuk di dunia ini, harus kita sadari bahwa kita masuk ke dalam ruang yang penuh dengan permasalahan-permasalahan yang rumit dan pelik. Kita sudah berani muncul di dunia, “ini adalah kenyataan”. Maka tidak ada jalan lain yaitu kita harus hadapi dan hadapi. Kita tidak boleh lari dari kenyataan, karena seberapa jauh dan seberapa kuat kita berlari, pasti kita akan tetap bertemu dengan kenyataan hidup kita. 

Hidup ini bukan seharusnya, tetapi hidup ini adalah kenyataan-kenyataan. Kalau kita masih berpikir dengan seharusnya, maka sebenarnya kita tidak memahami aturan main dalam kehidupan ini. Dan kalau demikian yang terjadi maka bersiap-siaplah kita untuk selalu kalah dalam menghadapi persidangan di ruang sidang. Akibat dari itu semua, kita akan terpenjara karena kalah atau tidak mau membela diri kita. Kita harus membela diri kita, kita harus berjuang untuk diri kita. Percayalah “kalau kita tidak bangkit berjuang demi diri kita, jangan berharap seorangpun yang akan berjuang untuk kita”. 

Orang yang kita butuhkan untuk bangkit berjuang didunia ini adalah diri kita sendiri. Masalah kita adalah masalah yang paling penting bagi kita. Masalah kita adalah masalah yang paling besar buat kita. Semisalkan kita ke rumah sakit untuk berobat karena kaki kita terkilir dan disamping kita ada orang yang kakinya patah, maka bukan berarti masalah orang tersebut lebih penting dari masalah kita. Karena kalaupun orang yang patah kaki tersebut sudah diobati dan kaki kita yang terkilir tersebut belum diobati, maka bukan kita sudah tidak punya masalah. Kita tetap bermasalah dengan kaki kita yang terkilir tersebut. Demikianlah aturan mainnya di dunia ini, itulah fakta-fakta kehidupan ini.

Masalah itu menjadi masalah yang besar, itu karena faktanya adalah masalah kita. Walaupun masalah itu sesuatu yang gawat kalau itu bukan masalah kita, kita pasti menganggap hal itu bukan masalah yang besar. Bukan orang tidak sayang kepada kita atau kita tidak sayang pada orang lain. Tetapi sekali lagi itulah aturan main, bahwa sudah menjadi sifat manusia akan lebih mementingkan masalahnya sendiri itu diselesaikan sebelum masalah orang lain. Maka bersiap-siaplah kita untuk dapat membuat rencana-rencana permainan ini, sehingga kita dapat memenangkan permainan-permainan ini.

Kita sering memperlakukan masalah kita dengan meminimalisir masalah, mencoba menetramkan diri kita sendiri dengan menghilangkan rasa pada diri kita untuk tidak merasakan masalah tersebut. Masalah tetaplah masalah, apakah masalah itu sepele atau masalah itu berat, bagi kita yang merasakannya sendiri tetaplah itu masalah dan harus diselesaikan. Karena kalau tidak diselesaikan masalah yang sepele tersebut dapat berubah menjadi masalah yang besar. Seperti tanggul yang lubang kecil kalau tidak segera diperbaiki, maka akan berubah menjadi banjir bandang.

Adil atau tidak adil kita diperlakukan orang, sehingga kita menerima masalah. Hal ini janganlah menjadi merepotkan kita. Bahwa masalah itu karena kita menerima sesuatu yang sudah adil atau masalah itu akibat dari ketidakadilan, tetaplah itu menjadi masalah kita. Yang harus kita lakukan adalah menyelesaikan masalah tersebut dan bukan meminimalisir masalah tersebut. Biasanya untuk menetramkan diri kalau masalah itu karena orang lain dan mengena pada kita, kita sering menganggap itu bukan masalah. Hal ini yang menyebabkan kita selalu di rudung malasah.

Hidup kita tidak dapat setiap hari harus berreaksi terhadap aksi-aksi yang terjadi. Kita tidak bisa hidup ini hanya “sekedar menjalani saja”. Ini sikap yang lemah, tidak bersyukur kita sudah diberi hidup. Dengan sekedar menjalani saja berati kita akan menunggu suatu aksi-aksi dan kemudian kita akan bereaksi. Tentu kalau demikian yang terjadi, kita tidak pernah berjuang untuk diri kita, karena kita hanya menunggu dan menunggu. Kekuatan kita untuk bereaksi semakin tambah hari bukannya semakin tambah kuat, tetapi pasti semakin tambah melemah. Sementara aksi-aksi dari luar tak akan pernah melemah pada hidup kita. Itulah kenyataannya kehidupan ini.

Untuk mengakhiri bahasan ini maka marilah kita berbuat untuk diri kita, jangan menunggu dan terus menunggu. Setiap pemenang dalam kehidupan, tahu persis bagaimana aturan main dalam kehidupan ini. Sehingga orang itu akan membuat rencana-rencana hidupnya dan akan mempunyai nilai kompetitif yang lebih tinggi dari yang lain. Sehingga sebelum masalah-masalah itu datang kita sudah mempunyai solusi-solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. dan solusi-solusi itu tidak kita cari-cari lagi. Karena kita menerima kenyataan-kenyataan, maka kita sudah mempunyai simpanan-simpanan solusi-solusinya.>>>> 1 Maret 2017, Sumsel.

Komentar

  1. 1xbet korean – Soccer prediction from real users
    Soccer predictions from Real users. 1XBet korean is the most detailed Soccer 1xbet partenaire apk download prediction website in the Asian sports betting market.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TATA - TITI - TATAK - TUTUK (MENATA-MENELITI-MEMANTAPKAN-MELAKSANAKAN

TATA – TITI – TATAK – TUTUK (Menata – Meneliti – Memantapkan - Melaksanakan)    Oleh : Setyagi Agus Murwono Akhir-akhir ini banyak kejadian orang melakukan kesalahan karena kurang hati-hati atau bahasa jawanya teledor. Ada yang ngomongnya keliru, ada yang tindakannya keliru walaupun mereka sendiri sebenarnya tidak mempunyai maksud yang demikian. Memang kurang hati-hati ini hal yang sepele, hal yang remeh, tetapi kalau tidak diperhatikan dapat membuat masalah yang besar dan bisa sampai ke masalah pidana. sehingga menyebabkan masalah-masalah yang serius, bahkan sampai berujung pada kasus pidana. Kalau sudah demikian baru kita merasakan penyesalan, karena sebenarnya hal tersebut bisa dihindari. Apa sebenarnya yang menyebabkan orang tidak berhati-hati ?. Penyebab orang tidak berhati-hati sebenarnya banyak sekali, tetapi secara garis besarnya disebabkan oleh “Persiapan” yang kurang atau tidak dilakukan. Orang seri...

SABAR ADALAH PERJUANGAN

SABAR ADALAH PERJUANGAN Oleh : Setyagi Agus Murwono Sabar mudah diucapkan, tetapi sangat “Sulit” untuk dilaksanakan. Untuk melaksanakannya membutuhkan “Keberanian” , yaitu berani melawan napsu pada diri sendiri dan berani mengikuti hati nurani yang jernih. Napsu , hati nurani dan akal merupakan tiga kesatuan yang dimiliki manusia. Napsu akan menampilkan suatu perasaan ketidakpuasan terhadap kondisi yang terjadi. Hati nurani menampilkan rasa syukur terhadap kondisi yang terjadi. Napsu memposisikan benar atau salah, seba gai suatu kondisi “Harga Diri” . Hati nurani memposisikan benar-salah, sebagai suatu “Pembelajaran” buat manusia agar ada “Perbaikan Terus Menerus” dalam pelaksanaan hidup manusia. Dua kutub penggerak manusia ini, napsu dan hati nurani akan mempengaruhi Akal kita . Akal yang diisi dengan “Pengetahuan” akan menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu dapat meramu napsu dan hati nurani menjadi fasilitas Tuhan yang amanah. Tetapi jika manusia kurang ...

PENSIUN BUKAN MASA BERAKHIR

PENSIUN BUKAN MASA BERAKHIR Oleh : Setyagi AM Pensiun adalah masa awal kita untuk menjadi orang yang mandiri. Pensiun bukanlah menjadi akhir dari segalanya. Hidup terus berjalan walau masa pensiun telah tiba. Menganggap masa pensiun menjadi akhir dari kita harus bekerja adalah anggapan kurang tepat. Hidup berarti bekerja, mati berarti berhenti bekerja. Bekerja harus berjalan terus, bekerja mulai kita hidup sampai Tuhan memanggil kita. Pensiun harus dianggap sebagai   kelahiran kedua. Pensiun harus disambut dengan penuh kegairahan karena kita akan memasuki masa dimana kita dituntut untuk benar-benar menjadi “Seorang Pekerja” dan bukan lagi menjadi “Seorang Pegawai.” Masa pensiun mendidik orang untuk dapat hidup secara “berdikari” , yaitu hidup dan menghidupi hidup dengan mengolah pekerjaannya sendiri, menikmati hasilnya sendiri dan menanggung resikonya sendiri. Pensiun tidak menjadikan kita menjadi orang yang harus mengisolir diri. Pensiun tidak menjadikan orang...