KENYATAAN
ITU TIDAK ADA, YANG ADA ADALAH PERSEPSI
Oleh : Setyagi Agus Muwono
Di dalam perjalanan hidup kita, yang mana kita pasti
mempunyai masa lalu dan kita menjalani hidup dimasa sekarang ini. Tentu kita
mempunyai pengharapan-pengharan yang lebih baik untuk perjalanan hidup kita
dimasa depan. Kehidupan di masa depan akan menjadi lebih baik bila kita mampu
mengelola dan mengendalikan diri kita untuk mempersepsikan perjalanan masa lalu
kita dan masa sekarang secara benar.
Berbicara masalah persepsi berarti harus berbicara
masalah kenyataan. Suatu contoh : di
suatu pertambakan udang, hasil budidayanya mengalami kegagalan dan sudah
dilakukan berbagai macam upaya tetapi masih gagal juga, sehingga harus
dilakukan langkah-langkah perubahan-perubahan yang ekstrem. Menghadapi
kenyataan “Kegagalan” ini, persepsi orang yang satu dengan orang yang lain
berbeda-beda. Ada yang mempersepsikan, wajar kita gagal karena kita kurang
bersungguh-sungguh; ada yang mempersepsikan, tidak masuk akal kok bisa gagal,
padahal semua teknis sudah dijalankan; ada yang mempersepsikan, ya sudah belum
rejekinya. Dari satu kondisi kenyataan bisa memunculkan banyak persepsi
tergantung bagaimana kita memandangnya. Tentunya dalam hal ini, seperti tujuan
kita membahas ini, agar perjalanan hidup kita kedepan lebih baik lagi.
Saya tidak sedang membicarakan persepsi orang yang
satu lebih benar dari orang yang lain. Tetapi saya akan membicarakan, bagaimana
keberhasilan ke depan itu harus di dukung dengan persepsi yang benar. Orang
yang ingin berhasil, persepsi tentang hidupnya harus optimis, yaitu memandang
bahwa kegagalan budidaya itu bersifat sementara dan bukan bersifat tetap. Maka
langkah-langkah yang dilakukan adalah mencari dan mencari cara untuk dapat
berhasil. Orang yang pesimis mempersepsikan kegagalan itu sebagai sesuatu yang
tetap, tak dapat berubah lagi, sehingga mereka berpikir untuk apa lagi berbuat.
Persepsi pesimis ini akan mempengaruhi tindakan selanjutnya untuk masa
depannya.
Manusia itu berkuasa atas dirinya, apa yang akan
diperbuat pada dirinya tidak boleh ada penghalang. Manusia harus merdeka tidak
ada yang membatasi atau mendekte persepsinya terhadap suatu kenyataan. Hal ini
disebabkan yang mempersepsikan hidupnya adalah dirinya sendiri, yang melakukan
tindakan juga dirinya sendiri dan yang akan menikmati atau merasakan berhasil
dan gagalnya masa depannya adalah juga orang itu sendiri. Maka orang itu harus
dapat menguasai dirinya sendiri, agar keputusan yang diambil untuk hidupnya
benar-benar berasal dari persepsinya sendiri terhadap kenyataan tersebut.
Dalam melihat kenyataan, dimana persepsi orang yang
satu berbeda dengan orang yang lain atau juga bisa terjadi sama persepsinya.
Persepsi itu suatu pilihan kita sendiri. Persepsi kita terhadap suatu kenyataan
hari ini dan hari kemarin bisa jadi berbeda, itu syah-syah saja. Yang penting
kita mempunyai rasa tanggung jawab terhadap persepsi yang telah kita pilih
dalam melihat kenyataan tersebut. Untuk memahami persepsi seseorang dalam
mempersepsikan suatu kenyataan, kita harus mengetahui bagaimana ia menafsirkan
hidupnya. Misalnya : anak kita rajin
sekali belajar, karena anak kita ingin menjadi seorang dokter. Kita sebagai
orang tuanya, khawatir terhadap keinginan anak kita. Bukan kita tidak mendukung
keinginan tersebut, tetapi permasalahan biaya untuk sekolah di kedokteran yang
menjadi pembatasnya. Maka kita berkata pada anak kita, “jangan sekolah di
kedokteran yaa nak” cari sekolah yang lain yang biayanya tidak besar. Mendengar
penuturan orang tuanya, anak ini bukannya berhenti keinginannya untuk sekolah
di kedokteran, ia semakin rajin melihat di internet dan akhirnya menemukan
lembaga-lembaga yang memberikan beasiswa sekolah di kedokteran.
Melihat cerita di atas ini menunjukkan bahwa
persepsi anak tersebut mendengarkan kenyataan orang tuanya, bukan ditanggapi
dengan persepsi yang pesimis tetapi ditanggapi dengan persepsi optimis. Ini
menunjukkan bahwa persepsi itu pilihan bebas yang boleh kita ambil. Sebenarnya
anak tersebut juga dapat memilih untuk mencari sekolah yang lain karena kenyataan
ekonomi orang tuanya. Tetapi karena anak tersebut mempunyai cita-cita untuk
menjadi dokter maka persepsi yang ia pilih adalah mencari pembiayaan sekolah
kedokteran.
Respon dari suatu kejadian bukan tergantung pada apa
yang terjadi, tetapi tergantung pada bagaimana kita memilih mempersepsikan apa
yang terjadi tersebut. Misalkan : Ketika kita mendapatkan pengalaman yang menyedihkan dimasa
kecil kita, misalnya dirampok, sehingga peristiwa itu membuat kita menjadi
trauma. Dengan pengalaman yang demikian kita memang tidak bertanggung jawab
terhadap peristiwa tersebut, karena yang menyebabkan kita trauma adalah
perampok. Tetapi masa depan kita adalah tanggung jawab kita, maka trauma masa
lalu itu jangan menjadi filter untuk mempersepsikan masa depan kita. kita harus
memilih persepsi yang dapat mendukung agar kita tidak trauma lagi, kita harus
mempersepsikan bahwa dimasa depan masih banyak orang yang baik. Hal ini penting
karena masa depan kita adalah tanggung jawab kita sendiri.
Marilah kita bangun persepsi kita tentang kenyataan
kehidupan ini mengunakan persepsi-persepsi yang optimis. Persepsi optimis
memandang bahwa seburuk-buruknya kenyataan hidup yang ada di dunia ini, pasti
ada solusinya. Tugas kita yang menginginkan masa depan lebih baik, harus
mempunyai persepsi hidup yang positif. Karena
kita bukan seperti bangsanya ayam yang hanya bisa mengais-ngais saja untuk
mencari makan, tetapi kita dibekali akal yang bisa membuat seribu pintu rejeki
terbuka ketika satu pintu rejeki yang lain tertutup. Hal ini tergantung
bagaimana kita mau memilih persepsi hidup yang positif. 10 Maret,
2017.>>>>>
Komentar
Posting Komentar